Selasa, 17 November 2015

Artikel "DASAR SOSIOLOGI PENDIDIKAN JASMANI"

DASAR SOSIOLOGI PENDIDIKAN JASMANI

BY:  FAISAL


A. Arti Sosiologi
    Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari manusia, kelompok manusia, aktivitas manusia, lembaga dari masyarakat. Ia mempunyai kaitan dengan masyarakat, agama, keluarga, pemerintah, pendidikan dan rekreasi. Ia merupakan ilmu yang berkenaan dengan pengembangan tata sosial yang lebih baik yang bercirikan persamaan suku bangsa, kebahagiaan, kesejahteraan dan toleransi. (Bucher, 1983).
    Sosiologi olahraga berurusan dengan perilaku sosial manusia, baik perilaku kelompok, dalam situasi olahraga. Para sosiolog olahraga mempelajari bagaimana interaksi manusia yang satu dengan yang lain dalam suasana olahraga, menentukan bagaimana proses olahraga mempengaruhi perkembangan dan sosialisasi manusia dan bagaimana manusia menyesuaikan dirinya.

B. Fungsi Mempelajari Sosiologi
    Mereka yang menekuni sosiologi pendidikan mempunyai tiga fungsi utama, yaitu :
 1) Mempelajari pengaruh pendidikan terhadap lembaga sosial dan terhadap kehidupan individu dalam kelompok, seperti bagaimana sekolah mempengaruhi kepribadian atau perilaku seseorang.                                                                                                                                  2) Mengkaji hubungan kemanusiaan yang terdapat dalam sekolah yang meliputi peserta didik, orang tua, guru dan bagaimana hubungan itu mempengaruhi kepribadian dan perilaku individu.                                                                                                                                3) Mempelajari hubungan antara sekolah dengan lembaga lain dalam masyarakat.

C. Karakteristik Manusia
    Plato mengemukakan bahwa “manusia secara potensial dilahirkan sebagai mahluk sosial”. Untuk mewujudkan potensinya manusia harus berada dan berinteraksi dengan lingkungan manusia yang lain. Hal ini mengingatkan kita kepada bayi yang disusui dan dibesarkan binatang, yang akhirnya tidak dapat dididik kembali untuk menjadi manusia biasa.   
    Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa manusia dilahirkan sebagai manusia, ia memang memiliki karakteristik jasmani, tetapi sifat-sifat lain yang diidentifikasi hanya dimiliki oleh manusia tidak ada pada waktu lahir. Sifat-sifat itu antaralain adalah kasih sayang, benci, cemburu, tamak, dan harapan. Bayi yang baru lahir tidak memiliki sifat-sifat itu tetapi harus mempelajarinya. Seseorang baru menjadi manusia bila ia dapat menyesuaikan diri dengan kebudayaan dan belajar hidup dalam masyarakat.
    Manusia mempunyai ciri bahwa ia dapat memiliki sifat-sifat manusia yang merupakan bagian dari lingkungan dimana ia hidup.salah satu ciri itu adalah ia dapat berpikir yang memungkinkan ia mengambil keputusan, mengontrol perilaku dan menyesuaikan diri dengan berbagai situasi.
    Semenjak lahir seseorang berkembang sebagai mahluk sosial dan juga sebagai satu individu yang mempunyai keinginan dan perhatian pribadi. Segera setelah lahir anak menunjukkan satu kecenderungan menjadi mahluk sosial. Ia mempunyai kemampuan untuk bereaksi terhadap berbagai macam rangsang khususnya terhadap karakteristik wajah manusia. Sementara proses menjadi dewasa berlanjut, anak memperlihatkan perilaku yang bercirikan kerjasama dan hasrat untuk bersahabat. Sebaliknya, anak juga memperlihatkan sifat-sifat keunikan individual, seperti keinginan, yang disukai dan tidak disukai. Sementara waktu berjalan, anak menjadi lebih koperatif, mencari teman dan lebih sadar terhadap keinginan orang lain.ia menyadari pentingnya kerjasama, mengembangkan pendirian dan loyalitas, dan menjadi tertarik kepada masyarakat dimana ia hidup khususnya pada kesejahteraan masyarakat. Ia juga merasa bertanggung jawab terhadap kesejahteraan semua manusia. Pada waktu yang sama, ia mempunyai minat pribadi tertentu yang ingin dipertahankannya. Ia menjadi seseorang yang memperjuangkan pengakuan, kehormatan atau martabat, pemilikan materi menggunakan sebagian besar waktu untuk meningkatkan minat pribadi. Jadi anak berkembang secara sosial. Pada satu pihak, individu itu tertarik pada dunia luas, pada orang lain, dan pada kesejahteraan manusia, tetapi pada lain pihak, individu itu tidak tertarik pada kehidupannya sendiri dan ambisi pribadi.

D. Cara Pembelajaran Sosiologi
    Menurut Bucher (1983) ada tiga cara pembelajaran sosial yang umum yaitu :
1) Hadiah dan Hukuman
    Anak-anak menginginkan hadiah karena hadiah memberikan kegembiraan dan kepuasan. Sebaliknya mereka tidak menginginkan hukuman karena hukuman memberikan rasa sakit dan ketidak puasan. Hadiah dan hukuman dapat dalam bentuk materi atau nonmateri. Umpamanya, seorang anak memperoleh sejumlah uang atau kata-kata pujian sebagai hadiah dan satu tamparan di pipi atau dicerca sebagai satu hukuman.
2) Mencontoh atau Meniru
    Mencontoh orang lain merupakan cara yang umum dalam belajar. Mencontoh itu dapat secara sadar atau secara tidak sadar. Pada permulaan kehidupan anak, ia belajar bahwa hadiah bertambah bila ia melakukan apa yang dikehendaki oleh ayah, saudara, tetangga atau pemimpin regu. Lambat laun ia memiliki pola perilaku yang menyerupai ikatan emosional yang dekat dengan dia. Ikatan itu menghasilkan kebiasaan meniru yang diulangi berkali-kali dan pada akhirnya menjadi tidak disadari dalam melakukannya.
3) Diajar
    Bila seseorang mempunyai wewenang atau seorang pakar dalam suatu bidang menerangkan kepada anak bagaimana melakukan suatu tugas atau apa yang dikatakan perilaku baik dalam satu situasi, maka terjadilah pembelajaran. Mengajar anak bagaimana memukul bola dengan alat pemukul secara baik adalah contoh.
    Cara pembelajaran sosial tersebut hanya efektif bila dikaitkan dengan hadiah atau hukuman, atau bila guru/pelatih adalah orang-orang teladan yang ingin dicontoh oleh anak. Karena orang yang baik untuk diteladani itu tidak selalu ada serta pujian dan hukuman tidak diberikan, maka cara diajar ini kadang-kadang merupakan satu kegagalan. Begitu pula, contoh memberikan pengaruh yang lebih besar pada anak. Umpamanya, bila si ayah merokok, maka ayah tersebut akan menemui kesulitan mengajar anaknya tidak merokok.

E. Teori Perkembangan Moral
    Istilah moral berhubungan dengan betul atau salah dalam berbuat, atau baik atau buruk dalam berperilaku. Hubungan sosial yang baik dan berbuat baik sesuai dengan hati nurani seseorang adalah perilaku moral. Perkembangan moral adalah pertumbuhan dan kedewasaan dalam perkembangan suara hati dan dalam perbuatan yang baik.
  1) Teori Kay
    Menurut kay (1968) perkembangan moral berlangsung beberapa tahap. Dalam beberapa hal tertentu perkembangan moral anak-anak secara kuantitatif. Umpanya sikap terhadap tanggung jawab, altruisme (asas yang mengutamakan kepentingan orang lain, tidak tergantung pada orang lain, rasionalitas, timbul pada anak-anak dan secara pelan-pelan menjadi matang).
Sungguhpun demikian, sebaliknya tahap-tahap yang berbeda dari moralitas tidak hanya dapat ditentukan secara jelas dan mudah dikenal, tetapi juga ditentukan dalam urutan yang tetap.
    Seorang anak dikontrol secara nyata oleh pertimbangan kepatuhan kepada orang lain yang lebih berwenang atau berkuasa. Sebaliknya seorang remaja sudah mampu menggunakan prinsip moral pribadi.
2) Teori Piaget
    Asumsi piaget berkenaan dengan proses sosialisasi mengandung arti ada aturan dan kehidupan individu harus serasi dengan peraturan tersebut. Sosialisasi yang demikian atau belajar hidup sesuai dengan peraturan itu merupakan satu proses perkembangan, yang terjadi pada berbagai tahap pada permulaan tahun-tahun kehidupan.
    Tahap pertama, yang terjadi semenjak lahir sampai kira-kira umur dua tahun berlangsung perkembangan neuromuskuler dengan sedikit kesadaran pada peraturan secara naluri.
    Tahap kedua, terjadi dari umur kira-kira tiga tahun sampai enam tahun, dijumpai suatu realisasi  yang lebih besar dari peraturan, tetapi anak masih berpusat pada “aku” dan sebagai akibat ia lebih banyak mengikuti peraturannya sendiri.
    Tahap ketiga, yang terjadi pada umur kira-kira tujuh sampai sepuluh tahun, adalah yang dapat dinamakan tahap “kerjasama” dimana anak lebih mengindahkan peraturan, yaitu peraturan yang diyakininya yang tidak dapat berubah dan mutlak.
    Tahap keempat, adalah tahap terjadinya penggolongan dari peraturan yang dipahami oleh individu dibuat demi kebaikan bagi masyarakat dan individu harus mematuhi peraturan, karena telah dimufakati dalam pembuatannya. Namun dapat diadakan perubahan dengan kesepakatan bersama. Dengan kata lain, pada tahap ini peraturan telah sungguh-sungguh dipahami dan dimiliki oleh individu dan telah menjadi bagian dari perilaku individu.
3) Teori Kohlberg
    Lawrence Kohlberg telah membuat satu kerangka kerja dari tahap-tahap perkembangan moral, yang terdiri dari tiga tingkatan dan enam tahap.
    Pada tingkat prakonvensional ada dua tahap. Tahap pertama dari perkembangan moral adalah “orientasi hukuman-dan-kepatuhan”. Menurut kohlberg pada tahap ini ada akibat yang ditentukan oleh perilaku yaitu baik dan tidak baik. Pada tahap kedua, adalh “orientasi instrumen-relativis”. Dalam tahap ini individu berkeyakinan bahwa perilaku yang baik akan menghasilkan kepuasan terutama kepada kebutuhan sendiri; hanya kadang-kadang kebutuhan orang lain.
    Pada tingkat konvensional, terjadi tahap ketiga dan tahap keempat. Tahap ketiga adalah “orientasi penyesuaian antar pribadi”. Dengan kata lain, pada tahap ini berusaha berbuat hal-hal yang disukai dan disetujui orang lain. Tahap keempat adalah tahap “orientasi hukum dan ketertiban”. Pada tahap ini individu percaya terhadap otoritas dan peraturan dan mematuhinya sebagai salah satu cara memelihara ketertiban sosial.

    Pada tingkat pasca-konvensional atau asas terjadi tahap kelima dan keenam. Tahap kelima adalah “orientasi kontak sosial dan legalistik (mematuhi hukuman)” yang menekankan pada hak tiap individu yang telah ditetapkan oleh masyarakat. Tahap keenam adalah “orientasi asas-universal-etika” yang menekankan pada peran hati nurani berdasarkan pada asas etika yang teruji yang dipilih oleh individu, seperti hak asasi manusia dan menghargai kemuliaan manusia.



TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG :) SALAM OLAHRAGA!!!!!

1 komentar:

  1. 5 Best Ways to Build a Perfect Tithium Alloy
    When it comes 아이 벳 to ray ban titanium stainless titanium 200 welder steel materials, the best option for titanium white dominus building titanium alloy high quality ceramic parts is for a new user. The process is quite simple

    BalasHapus