DASAR SOSIOLOGI PENDIDIKAN
JASMANI
BY: FAISAL
A. Arti Sosiologi
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari manusia, kelompok manusia,
aktivitas manusia, lembaga dari masyarakat. Ia mempunyai kaitan dengan
masyarakat, agama, keluarga, pemerintah, pendidikan dan rekreasi. Ia merupakan
ilmu yang berkenaan dengan pengembangan tata sosial yang lebih baik yang
bercirikan persamaan suku bangsa, kebahagiaan, kesejahteraan dan toleransi.
(Bucher, 1983).
Sosiologi
olahraga berurusan dengan perilaku sosial manusia, baik perilaku kelompok,
dalam situasi olahraga. Para sosiolog olahraga mempelajari bagaimana interaksi
manusia yang satu dengan yang lain dalam suasana olahraga, menentukan bagaimana
proses olahraga mempengaruhi perkembangan dan sosialisasi manusia dan bagaimana
manusia menyesuaikan dirinya.
B. Fungsi Mempelajari Sosiologi
Mereka yang
menekuni sosiologi pendidikan mempunyai tiga fungsi utama, yaitu :
1) Mempelajari
pengaruh pendidikan terhadap lembaga sosial dan terhadap kehidupan individu
dalam kelompok, seperti bagaimana sekolah mempengaruhi kepribadian atau
perilaku seseorang.
2) Mengkaji hubungan kemanusiaan yang terdapat dalam sekolah yang
meliputi peserta didik, orang tua, guru dan bagaimana hubungan itu mempengaruhi
kepribadian dan perilaku individu.
3) Mempelajari hubungan antara sekolah dengan lembaga lain dalam
masyarakat.
C. Karakteristik Manusia
Plato
mengemukakan bahwa “manusia secara potensial dilahirkan sebagai mahluk sosial”.
Untuk mewujudkan potensinya manusia harus berada dan berinteraksi dengan
lingkungan manusia yang lain. Hal ini mengingatkan kita kepada bayi yang
disusui dan dibesarkan binatang, yang akhirnya tidak dapat dididik kembali
untuk menjadi manusia biasa.
Dari
pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa manusia dilahirkan sebagai manusia, ia
memang memiliki karakteristik jasmani, tetapi sifat-sifat lain yang
diidentifikasi hanya dimiliki oleh manusia tidak ada pada waktu lahir.
Sifat-sifat itu antaralain adalah kasih sayang, benci, cemburu, tamak, dan
harapan. Bayi yang baru lahir tidak memiliki sifat-sifat itu tetapi harus
mempelajarinya. Seseorang baru menjadi manusia bila ia dapat menyesuaikan diri
dengan kebudayaan dan belajar hidup dalam masyarakat.
Manusia
mempunyai ciri bahwa ia dapat memiliki sifat-sifat manusia yang merupakan
bagian dari lingkungan dimana ia hidup.salah satu ciri itu adalah ia dapat
berpikir yang memungkinkan ia mengambil keputusan, mengontrol perilaku dan
menyesuaikan diri dengan berbagai situasi.
Semenjak lahir seseorang berkembang sebagai
mahluk sosial dan juga sebagai satu individu yang mempunyai keinginan dan perhatian pribadi. Segera
setelah lahir anak menunjukkan satu kecenderungan menjadi mahluk sosial. Ia
mempunyai kemampuan untuk bereaksi terhadap berbagai
macam rangsang khususnya terhadap karakteristik wajah manusia. Sementara proses
menjadi dewasa berlanjut, anak memperlihatkan perilaku yang bercirikan
kerjasama dan hasrat untuk bersahabat. Sebaliknya, anak juga memperlihatkan
sifat-sifat keunikan individual, seperti keinginan, yang disukai dan tidak disukai.
Sementara waktu berjalan, anak menjadi lebih koperatif, mencari teman dan lebih
sadar terhadap keinginan orang lain.ia menyadari pentingnya kerjasama,
mengembangkan pendirian dan loyalitas, dan menjadi tertarik kepada masyarakat
dimana ia hidup khususnya pada kesejahteraan masyarakat. Ia juga merasa
bertanggung jawab terhadap kesejahteraan semua manusia. Pada waktu yang sama,
ia mempunyai minat pribadi tertentu yang ingin dipertahankannya. Ia menjadi
seseorang yang memperjuangkan pengakuan, kehormatan atau martabat, pemilikan materi menggunakan
sebagian besar waktu untuk meningkatkan minat pribadi. Jadi anak berkembang
secara sosial. Pada satu pihak, individu itu tertarik pada dunia luas, pada
orang lain, dan pada kesejahteraan manusia, tetapi pada lain pihak, individu
itu tidak tertarik pada kehidupannya sendiri dan ambisi pribadi.
D. Cara Pembelajaran Sosiologi
Menurut
Bucher (1983) ada tiga cara pembelajaran sosial yang umum yaitu :
1) Hadiah dan Hukuman
Anak-anak
menginginkan hadiah karena hadiah memberikan kegembiraan dan kepuasan.
Sebaliknya mereka tidak menginginkan hukuman karena hukuman memberikan rasa
sakit dan ketidak puasan. Hadiah dan hukuman dapat dalam bentuk materi atau
nonmateri. Umpamanya, seorang anak memperoleh sejumlah uang atau kata-kata
pujian sebagai hadiah dan satu tamparan di pipi atau dicerca sebagai satu
hukuman.
2) Mencontoh atau Meniru
Mencontoh
orang lain merupakan cara yang umum dalam belajar. Mencontoh itu dapat secara
sadar atau secara tidak sadar. Pada permulaan kehidupan anak, ia belajar bahwa
hadiah bertambah bila ia melakukan apa yang dikehendaki oleh ayah, saudara,
tetangga atau pemimpin regu. Lambat laun ia memiliki pola perilaku yang
menyerupai ikatan emosional yang dekat dengan dia. Ikatan itu menghasilkan
kebiasaan meniru yang diulangi berkali-kali dan pada akhirnya menjadi tidak
disadari dalam melakukannya.
3) Diajar
Bila
seseorang mempunyai wewenang atau seorang pakar dalam suatu bidang menerangkan
kepada anak bagaimana melakukan suatu tugas atau apa yang dikatakan perilaku
baik dalam satu situasi, maka terjadilah pembelajaran. Mengajar anak bagaimana
memukul bola dengan alat pemukul secara baik adalah contoh.
Cara pembelajaran sosial tersebut hanya
efektif bila dikaitkan dengan hadiah atau hukuman, atau bila guru/pelatih adalah orang-orang teladan
yang ingin dicontoh oleh anak. Karena orang yang baik untuk diteladani itu
tidak selalu ada serta pujian dan hukuman tidak diberikan, maka cara diajar ini
kadang-kadang merupakan satu kegagalan. Begitu pula, contoh memberikan pengaruh yang lebih besar pada anak.
Umpamanya, bila si ayah merokok, maka ayah tersebut akan menemui kesulitan
mengajar anaknya tidak merokok.
E. Teori Perkembangan Moral
Istilah
moral berhubungan dengan betul atau salah dalam berbuat, atau baik atau buruk
dalam berperilaku. Hubungan sosial yang baik dan berbuat baik sesuai dengan
hati nurani seseorang adalah perilaku moral. Perkembangan moral adalah
pertumbuhan dan kedewasaan dalam perkembangan suara hati dan dalam perbuatan
yang baik.
1) Teori Kay
Menurut kay
(1968) perkembangan moral berlangsung beberapa tahap. Dalam beberapa hal
tertentu perkembangan moral anak-anak secara kuantitatif. Umpanya sikap
terhadap tanggung jawab, altruisme (asas yang mengutamakan kepentingan orang
lain, tidak tergantung pada orang lain, rasionalitas, timbul pada anak-anak dan
secara pelan-pelan menjadi matang).
Sungguhpun demikian, sebaliknya tahap-tahap yang
berbeda dari moralitas tidak hanya dapat ditentukan secara jelas dan mudah dikenal,
tetapi juga ditentukan dalam urutan yang tetap.
Seorang anak dikontrol secara nyata oleh
pertimbangan kepatuhan kepada orang lain yang lebih berwenang atau berkuasa.
Sebaliknya seorang remaja sudah mampu menggunakan prinsip moral pribadi.
2) Teori Piaget
Asumsi
piaget berkenaan dengan proses sosialisasi mengandung arti ada aturan dan
kehidupan individu harus serasi dengan peraturan tersebut. Sosialisasi yang
demikian atau belajar hidup sesuai dengan peraturan itu merupakan satu proses
perkembangan, yang terjadi pada berbagai tahap pada permulaan tahun-tahun
kehidupan.
Tahap
pertama, yang terjadi semenjak lahir sampai kira-kira umur dua tahun
berlangsung perkembangan neuromuskuler dengan sedikit kesadaran pada peraturan
secara naluri.
Tahap kedua,
terjadi dari umur kira-kira tiga tahun sampai enam tahun, dijumpai suatu
realisasi yang lebih besar dari
peraturan, tetapi anak masih berpusat pada “aku” dan sebagai akibat ia lebih
banyak mengikuti peraturannya sendiri.
Tahap
ketiga, yang terjadi pada umur kira-kira tujuh sampai sepuluh tahun, adalah
yang dapat dinamakan tahap “kerjasama” dimana anak lebih mengindahkan
peraturan, yaitu peraturan yang diyakininya yang tidak dapat berubah dan
mutlak.
Tahap
keempat, adalah tahap terjadinya penggolongan dari peraturan yang dipahami oleh
individu dibuat demi kebaikan bagi masyarakat dan individu harus mematuhi
peraturan, karena telah dimufakati dalam pembuatannya. Namun dapat diadakan
perubahan dengan kesepakatan bersama. Dengan kata lain, pada tahap ini
peraturan telah sungguh-sungguh dipahami dan dimiliki oleh individu dan telah
menjadi bagian dari perilaku individu.
3) Teori Kohlberg
Lawrence
Kohlberg telah membuat satu kerangka kerja dari tahap-tahap perkembangan moral,
yang terdiri dari tiga tingkatan dan enam tahap.
Pada tingkat
prakonvensional ada dua tahap. Tahap pertama dari perkembangan moral adalah
“orientasi hukuman-dan-kepatuhan”. Menurut kohlberg pada tahap ini ada akibat
yang ditentukan oleh perilaku yaitu baik dan tidak baik. Pada tahap kedua,
adalh “orientasi instrumen-relativis”. Dalam tahap ini individu berkeyakinan
bahwa perilaku yang baik akan menghasilkan kepuasan terutama kepada kebutuhan
sendiri; hanya kadang-kadang kebutuhan orang lain.
Pada tingkat
konvensional, terjadi tahap ketiga dan tahap keempat. Tahap ketiga adalah
“orientasi penyesuaian antar pribadi”. Dengan kata lain, pada tahap ini
berusaha berbuat hal-hal yang disukai dan disetujui orang lain. Tahap keempat
adalah tahap “orientasi hukum dan ketertiban”. Pada tahap ini individu percaya
terhadap otoritas dan peraturan dan mematuhinya sebagai salah satu cara
memelihara ketertiban sosial.
Pada tingkat
pasca-konvensional atau asas terjadi tahap kelima dan keenam. Tahap kelima
adalah “orientasi kontak sosial dan legalistik (mematuhi hukuman)” yang
menekankan pada hak tiap individu yang telah ditetapkan oleh masyarakat. Tahap
keenam adalah “orientasi asas-universal-etika” yang menekankan pada peran hati
nurani berdasarkan pada asas etika yang teruji yang dipilih oleh individu,
seperti hak asasi manusia dan menghargai kemuliaan manusia.
TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG :) SALAM OLAHRAGA!!!!!

5 Best Ways to Build a Perfect Tithium Alloy
BalasHapusWhen it comes 아이 벳 to ray ban titanium stainless titanium 200 welder steel materials, the best option for titanium white dominus building titanium alloy high quality ceramic parts is for a new user. The process is quite simple